#UPDATE INFO:

Minggu, 03 Januari 2016

Tips Grooming Kucing yang Mudah

(Ilustrasi)

Tips Memandikan Kucing

Memandikan (grooming) pada kucing merupakan salah satu rutinitas yang umum dilakukan oleh owner, terutama untuk kucing-kucing yang memiliki tipe rambut panjang seperti Persia, Angora dan Maincoon. Aktifitas grooming baiknya dilakukan seminggu sekali. Disamping untuk membuat kucing menjadi bersih dan wangi, aktifitas grooming juga dapat menurunkan resiko terjadinya penyakit kulit pada hewan, tetapi apa yang terjadi apabila prosedur yang kita lakukan tidak sesuai dan benar? Tentunya dapat berakibat tidak baik bagi hewan dan menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan ketika anda akan melakukan aktifitas grooming pada hewan kesayangan anda :

      1. Memastikan hewan benar-benar dalam kondisi prima

Proses memandikan kucing akan meningkatkan resiko stess pada hewan. Kucing tidak sama dengan manusia yang memiliki rutinitas mandi 2-3 kali sehari, sehingga pada waktu grooming kucing harus berada pada kondisi yang prima/ sehat. Kucing yang sehat tentunya ditunjukan dengan aktifitas yang baik, tidak ada bersin maupun pilek, dan tidak menunjukan adanya diare. Apabila dalam keadaan tidak prima kita tetap melakukan proses grooming tentunya akan berakibat stress yang dapat menurunkan imunitas tubuh kucing, sehingga ketika hewan sakit maka akan memperparah kondisi hewan. Usia kucing pertama kali untuk di grooming sebaiknya diatas 2 bulan, pemandian kitten dapat dilakukan dengan menggunakan air yang hangat.

      2. Menyiapkan alat keperluan grooming

Pada waktu grooming kita harus menyediakan perlengkapan seperti shampo khusus untuk hewan, handuk/ lap, hairdryer /blower, pemotong kuku, pembersih telinga, sisir, bedak dan juga parfum. Shampo yang digunakan harus menggunakan shampo yang dikhususkan untuk hewan. Penggunaan shampo manusia/ bayi untuk hewan tidak disarankan karena tipe kulit hewan dan manusia berbeda, penggunaan sampo yang salah akan membuat kerusakan pada kulit. Konsultasikan pada dokter hewan tentang jenis sampo apa yang baik diberikan sesuai dengan kondisi kulit. Beberapa jenis sampo hewan telah banyak beredar dipasaran seperti jenis sampo untuk penghilang kutu, jamur dan untuk kulit sehat.

      3. Teknik memandikan

Sebelum kucing dimandikan, terlebih dahulu kuku kucing dipotong, kemudian rambut kucing disisir dari atas kebawah dengan menggunakan sisir pengangkat bulu mati, dilanjutkan disisir dari bagian bawah keatas dengan sisir furbrow. Setelah bagian rambut-rambut yang mati terangkat kucing siap untuk dimandikan.

Kucing bukan merupakan hewan yang bersahabat dengan air, ketika dimandikan beberapa kucing akan merasa tidak tenang dan memberontak. Pertama basuh kucing dengan air secara perlahan pada bagian badan hingga menyeluruh, bagian kepala tidak boleh dibasahi dengan air, karena air yang masuk kedalam telinga akan memicu adanya keradangan pada telinga. Setelah dibasahi dengan air, kucing diberikan sampo dengan menggunakan spons khusus untuk memandikan kucing, setelah penyampoan secara menyeluruh, bilas dengan air sampai benar-benar tidak meninggalkan busa dan bersih.

Cara Perawatan Kucing

Tahap kedua dapat dilakukan dengan menggunakan conditioner khusus untuk melembutkan rambut kucing. Kucing yang selesai dimandikan segera dikeringkan dengan menggunakan handuk/ lap yang bersih. Setelah tahap pengeringan dengan menggunakan handuk/ lap kucing harus dikeringkan lagi dengan menggunakan hairdryer atau blower tujuannya adalah untuk membuat rambut tetap mengembang dan benar-benar kering. Apabila rambut kucing tidak benar-benar kering dan lembab, akan memicu timbulnya penyakit kulit seperti tumbuhnya jamur pada kulit/ dermatophytosis.

Penggunaan bedak pada kucing disarankan untuk menghaluskan rambut, tetapi setelah penggunaan bedak harus segera diblower dengan tujuan agar sisa sisa bedak tidak menumpuk pada lapisan kulit. Penggunaan parfum dapat digunakan untuk membuat lebih wangi dengan cara memberikan parfum pada tangan dan kemudian diusapkan ke hewan. Parfum yang digunakan harus parfum hewan yang aman, karena kucing memiliki kebiasaan untuk menjilat rambutnya sendiri. Penggunaan parfum yang tidak sesuai tentunya akan memberikan efek buruk pada hewan. (#)

)*sumber: www.pecintasatwa.com (Hizriah Alief Jainudin, drh.)

>>Back to: Artikel dan Tips!
 

Sabtu, 02 Januari 2016

Cara Mengadopsi Kucing

(Ilustrasi)

Jika anda sedang mempertimbangkan untuk mengadopsi kucing dan mengira Anda sudah siap, pertimbangkan terlebih dahulu. Pikirkan benar-benar jenis kucing yang ingin Anda miliki. Pertimbangkan jenis kelamin, usia, dan kepribadiannya, lalu kunjungi kucing yang Anda idam-idamkan sebelum membawanya pulang. Pastikan rumah Anda sudah siap menyambutnya dan bersiaplah, Anda harus merawat kucing Anda seumur hidupnya.

BAGIAN I: MELAKUKAN RISET

1. Tentukan jenis kucing yang Anda inginkan

Apa Anda ingin kucing ras murni atau kucing blasteran dengan riwayat keturunan yang tidak jelas? Kucing ras murni lebih cenderung mengalami banyak masalah kesehatan, Anda harus melakukan riset dan bersiap menghadapinya. Sebaliknya, kucing blasteran mungkin tidak mengalami masalah kesehatan yang diturunkan. Pastikan semua calon kucing Anda diperiksakan terlebih dahulu sebelum diadopsi. Penting untuk mengetahui apakah kucing-kucing tersebut memiliki masalah kesehatan, misalnya leukemia kucing.
  • Jika Anda tertarik mengadopsi kucing ras murni, carilah dari para peternak yang tepercaya dan pastikan bahwa kucing tersebut berasal dari peternak yang berpengalaman dalam bidang genetis dan pengawinan kucing, sehingga ia akan benar-benar peduli pada kucing yang dijualnya.
  • Jika Anda mengadopsi kucing dari tempat penampungan atau kelompok pencinta hewan, kucing biasanya sudah diperiksa dan diberikan vaksin secara rutin. Kucing juga mungkin telah disterilkan. 

2. Tentukan ras yang Anda inginkan

Lakukan riset untuk menemukan ras yang akan cocok dengan keinginan Anda. Ras yang berbeda akan memiliki tingkat aktivitas serta keriangan yang berbeda pula. Pertimbangkan sifat setiap sifat ras di bawah ini untuk menentukan ras kucing yang tepat bagi Anda:
  • Tingkat energi
  • Kebutuhan akan perhatian
  • Kasih saying terhadap pemilik
  • Kegemaran mengeong
  • Tingkat ketenangan perilaku
  • Kepintaran dan kemandirian
  • Keperluan perawatannya (misalnya apakah bulu kucing mudah rontok atau tidak)
  • Kecocokan dengan hewan peliharaan lain yang anda miliki 

 3. Tentukan usia kucing yang ingin Anda adopsi

Untuk melakukan ini, pertimbangkan karakteristik kucing yang Anda inginkan terlebih dahulu. Anak kucing biasanya sangat bersemangat dan belum mandiri. Kucing dewasa biasanya lebih mampu merawat diri sendiri dan tidak senakal anak kucing. Jika ada anak kecil atau bayi di keluarga Anda, jangan adopsi anak kucing, karena anak-anak kucing ini tidak boleh diperlakukan dengan kasar. Anak kucing akan merespons dengan menggigit dan mencakar ketika dikasari.
  • Pertimbangkan mengadopsi kucing yang lebih tua jika Anda sendiri adalah seorang lansia. Kucing yang lebih tua di tempat penampungan biasanya tidak dipilih oleh calon pemiliknya, tetapi kucing-kucing ini sangat cocok untuk menjadi teman hidup di usia lanjut. Kucing yang lebih tua tidak senakal kucing muda dan lebih tenang. 

4. Tentukan jenis kelamin kucing yang Anda inginkan

Setelah kucing disterilkan, kepribadian serta perilakunya tidak akan jauh berbeda antara satu dengan yang lain. Kedua jenis kelamin ini bisa bersikap manis, ramah, bersemangat, atau nakal. Jika Anda tidak ingin mengadopsi kucing yang telah disterilkan, ada beberapa perbedaan perilaku yang harus Anda pertimbangkan:
  • Kucing jantan: biasanya kencing pada permukaan vertikal (seperti gorden, dinding, dan pintu), senang berjalan-jalan dan berkelahi sehingga lebih mudah sakit dan tidak cocok untuk menjadi hewan peliharaan di dalam ruangan.
  • Kucing betina: sering mengeong saat berahi dan akan berusaha sekuat tenaga untuk kabur dari rumah agar bisa kawin. Jika ia hamil, selalu ada risiko saat melahirkan. Anda akan membutuhkan bantuan dokter hewan dengan biaya yang mahal. Anda juga harus mencari tempat tinggal untuk anak-anak kucing yang akan dilahirkannya. 

5. Pertimbangkan membeli lebih dari satu ekor kucing

Banyak kucing senang ditemani kucing lainnya. Jika Anda mengadopsi dua kucing, Anda tidak harus khawatir bahwa satunya akan bosan, kesepian, atau menimbulkan terlalu banyak masalah saat Anda meninggalkannya di rumah. Selain itu, jika Anda mengadopsi dari tempat penampungan, ini berarti Anda telah menyelamatkan nyawa dua ekor kucing, bukan hanya satu.
  • Pastikan rumah Anda cukup luas dan Anda punya cukup uang untuk merawat lebih dari satu kucing.

BAGIAN II: MENEMUKAN KUCING YANG COCOK

1. Kunjungi tempat penampungan di wilayah tempat tinggal Anda atau hubungi peternak kucing

Jika Anda ingin kucing ras, buat janji dengan pihak peternak untuk mulai mencari kucing yang Anda inginkan. Bertanyalah pada para pemilik kucing ras lainnya mengenai dari mana mereka mendapatkan kucing atau mintalah saran dokter hewan. Biasanya, orang-orang mencari kucing dari tempat penampungan terdekat. Staf di tempat penampungan tersebut umumnya cukup mengenal kucing-kucing yang mereka rawat dan bisa membantu Anda menemukan seekor yang sesuai dengan keadaan keluarga Anda.
  • Anda juga bisa mencari dari iklan di situs web atau koran untuk menemukan kucing. Cara ini mungkin lebih murah tetapi berisiko, karena Anda tidak akan mengetahui sejarah atau asal usul si kucing. Di sisi lain, mencari dari toko hewan peliharaan juga bisa membuat Anda tidak mengetahui sejarah kucing, kecuali pihak toko bisa menghubungkan Anda dengan peternaknya. 

2. Cari tanda-tanda kucing yang sehat

Tanda-tanda ini antara lain: kedua matanya harus bersinar jernih dan tidak berair, hidungnya tidak boleh mengeluarkan cairan atau lendir, dan kucing tidak boleh bersin atau batuk-batuk. Bulu kucing juga harus bersih, halus, dan tidak boleh kusut. Gunakan tangan Anda untuk meraba bulunya dan mencari kutu (biasanya berupa serangga kecil yang berwarna cokelat dan bergerak dengan cepat).
  • Anak kucing yang memiliki “perut buncit” berarti mungkin ia baru saja makan atau cacingan di ususnya. Anda juga harus mencari tanda-tanda diare (baik melalui kotak kotoran atau sisa-sisa feses di sekitar bokong kucing). 

3. Berkenalanlah dengan beberapa ekor kucing

Kunjungi kucing-kucing ini di tempat penampungan, peternakan, atau sumber lainnya. Bermainlah dengan semua kucing yang Anda suka untuk mencaritahu apakah kepribadian Anda akan cocok dengannya. Pertimbangkan jenis kucing yang akan pas untuk dipelihara di rumah Anda. Saat Anda ragu mengenai kepribadian seekor kucing, bertanyalah pada pekerja di tempat penampungan, pihak peternak, atau pemilik sebelumnya.
  • Misalnya, jika Anda menginginkan kucing ramah yang senang berinteraksi, pastikan calon kucing Anda akan senang dibelai atau duduk di pangkuan Anda. Jika Anda ingin kucing yang mandiri, carilah kucing yang tidak terlalu aktif bersosialisasi. Beberapa kucing lainnya mungkin malah senang berinteraksi dengan manusia. 

4. Pilih kucing Anda dan mulailah proses adopsinya

Proses ini mungkin berbeda tergantung dari apakah Anda akan mengadopsi kucing dari tempat penampungan, membeli dari peternak, atau mendapatkan dari sumber lainnya. Anda mungkin harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dan membayar sejumlah uang sebelum Anda bisa membawa kucing pulang dari tempat penampungan. Jika Anda membeli kucing dari peternak, harganya mungkin lebih mahal.
  • Beberapa tempat penampungan dan peternak juga mungkin mengajukan pertanyaan tentang lingkungan tempat tinggal Anda sebelum mengizinkan Anda mengadopsi seekor kucing. Beberapa lainnya bahkan mungkin melakukan kunjungan rumah atau meminta daftar orang yang bisa memberikan referensi mengenai keadaan rumah Anda. Jika Anda mengontrak, Anda mungkin harus meminta izin tertulis dari tuan rumah sebelum diperbolehkan memelihara kucing. 

5. Bawa kucing ke dokter hewan

Kucing harus mendapatkan pemeriksaan leukemia kucing jika belum pernah. Telinganya juga akan diperiksa untuk mencari kutu (hal ini sering terjadi pada anak kucing) dan dirawat jika dirasa perlu. Kulit kucing juga harus diperiksa atas masalah kutu atau parasit lainnya. Anda juga harus memastikan kucing mendapatkan pemeriksaan cacing.
  • Bahkan jika hasil pemeriksaan cacingannya negatif, Anda mungkin tetap harus melakukan langkah pencegahan.

BAGIAN III: MEMBAWA KUCING PULANG

1. Kucing harus divaksinasi, disterilkan, dan dipasangi mikrocip

Jika Anda mengadopsi kucing dari tempat penampungan, mungkin ia telah mendapatkan semua jenis perawatan tersebut. Jika tidak, Anda harus melakukannya sebelum kucing mencapai usia tertentu. Kucing harus divaksinasi terhadap penyakit distemper dan rabies kucing, tetapi mungkin ia juga membutuhkan vaksinasi lainnya, tergantung pada apa yang disarankan oleh dokter hewan Anda. Jika kucing Anda belum disterilkan, Anda bisa memanfaatkan kunjungan dokter hewan pertamanya untuk melakukan operasi ini. Anda juga disarankan menanamkan mikrocip (yang biasanya diletakkan di bawah kulit) untuk berjaga-jaga jika kucing Anda hilang.
  • Merawat kucing tidaklah murah, tetapi ketahuilah bahwa perawatan darurat untuk kondisi-kondisi medis yang seharusnya bisa dicegah akan jauh lebih mahal. Anda juga bisa mempertimbangkan asuransi hewan peliharaan jika tersedia di wilayah tempat tinggal Anda. 

2. Siapkan kotak kotoran untuk kucing

Pilih kotak plastik dan isi kotak tersebut dengan alas kotoran agar kucing bisa menggunakannya sebagai “toilet” di dalam ruangan. Letakkan kotak ini dalam area yang tenang di rumah Anda dan pastikan kucing mudah mendatanginya. Saat Anda membawa pulang kucing, tunjukkan lokasi kotak ini agar ia tahu ke mana ia harus pergi saat ingin buang hajat.
  • Anda bisa meletakkan kotak ini di lorong yang sunyi atau kamar mandi kedua Anda. 

3. Latih anak kucing agar buang hajat pada tempatnya

Kucing dewasa mungkin sudah bisa melakukan hal ini, tetapi Anda harus melatih anak kucing untuk menggunakan kotak kotoran dengan benar. Hal ini cukup mudah dilakukan. Pastikan otak Anda berada di lokasi yang mudah dijangkau dan persiapkan anak kucing. Biasanya, ia akan menggunakannya berdasarkan insting dan mulai terbiasa setelah beberapa kali buang hajat. Pastikan kotak ini tidak terlalu tinggi agar ia bisa mengaksesnya dengan mudah.
  • Pastikan Anda membersihkan kotak setiap hari dan mengganti alas kotorannya setiap minggu agar kotak tetap bersih. Jika Anda membiarkan kucing pergi keluar rumah, mungkin ia sering buang hajat di luar, yang berarti Anda tidak harus membersihkan kotak kotoran tersebut sesering seharusnya (atau bahkan Anda mungkin tidak akan memerlukan kotak kotoran). 

4. Tawarkan makanan dan air

Siapkan piring air dan makanan yang selalu bisa diakses oleh kucing Anda. Pilihlah makanan kucing berkualitas terbaik. Harganya mungkin memang lebih mahal, tetapi harga ini masih tergolong murah untuk memastikan kucing Anda tetap sehat. Jika Anda menggunakan makanan kering, pastikan Anda juga memberikan makanan basah sesekali. Pastikan mangkuk airnya selalu bersih dan hanya berisikan air yang segar dan bebas kotoran. Hindari memberikan susu atau krim, karena kucing bisa mengalami diare dan perut kembung karenanya.
  • Ikuti instruksi pemberian makanan pada kemasan makanan kucing. Kucing bisa makan apa saja (selama tidak berlebihan) atau diberi makan tiga kali sehari. Berikan kudapan sesedikit mungkin, karena kucing bisa mengalami obesitas, yang akan menghasilkan masalah kesehatan yang lebih serius (seperti diabetes).
  • Berikan makanan khusus anak kucing hingga ia berusia 1 tahun. Lalu, mulailah melakukan transisi ke makanan kucing dewasa dalam periode 7 hingga 10 hari. 

5. Siapkan mainan dan tiang garukan

Kucing perlu mengasah kukunya untuk menjaga kesehatan perilaku mereka. Jika Anda tidak menyiapkan tiang garukan, kucing akan mencakar perabot kayu dan benda-benda lainnya. Jika Anda menemukan kuku-kuku yang rontok di sekitar tiang garukan Anda, tidak usah khawatir. Hal ini adalah hal yang normal, kuku kucing akan lepas dan berganti dengan yang lebih baru dan tajam. Jika Anda ingin memotong kuku kucing untuk memastikan keamanan anggota keluarga Anda, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter hewan terlebih dahulu agar tidak menyakiti atau menakuti si kucing. Potong kukunya hanya jika diperlukan, karena kucing menggunakan cakarnya untuk berbagai hal. Bagi kucing, hidup menjadi lebih mudah saat kukunya tajam dan tidak dipotong.
  • Mainan tikus-tikusan atau lainnya bisa menghibur kucing Anda dan membuatnya berolahraga. 

6. Tentukan apakah kucing Anda boleh pergi keluar rumah atau tidak

Jika Anda memperbolehkannya, pastikan Anda memasang pintu kucing agar ia bisa kembali masuk ke dalam rumah. Jenis pintu kucing yang disarankan adalah yang menggunakan magnet, agar Anda bisa mencegah kucing lain memasuki rumah Anda. Pertimbangkan aspek bahaya bagi kucing yang bepergian ke luar, walau biasanya kucing akan mampu menghindari bahaya setelah berkeliaran selama beberapa saat (adapun contoh bahaya ini adalah jalanan yang ramai dan anjing-anjing yang berkeliaran). Kucing yang pergi keluar rumah mungkin membawakan 'hadiah tak terduga' untuk Anda saat ia pulang, tetapi ketahuilah bahwa hal ini normal dan merupakan bagian dari insting berburunya. Jika kucing Anda juga mulai buang hajat di luar rumah, Anda tidak perlu terlalu sering membersihkan kotak kotorannya.

7. Sosialisasikan kucing Anda

Beberapa kucing yang tidak terbiasa menjalin hubungan dengan manusia mungkin merasa tidak nyaman berada di sekitar orang. Jika ia lari, bersembunyi, mendesis atau meludah saat tidak bisa kabur, ini bukan berarti ia bertindak agresif, ia hanya takut. Masukkan kucing ke kandang yang diletakkan di ruangan yang penuh aktivitas manusia, seperti dapur atau ruang keluarga, agar ia bisa terbiasa dengan TV, radio, dan aktivitas normal sehari-hari yang dilakukan manusia.
  • Jangan terburu-buru. Jangan paksa kucing untuk berinteraksi dengan Anda. Biarkan ia mendatangi Anda secara bertahap.

8. Biarkan kucing membiasakan diri dengan kehadiran Anda

Berikan ia makanan kucing kalengan dalam porsi yang sedikit (kurang dari seujung jari) untuk menggodanya agar mendekati Anda. Bagi anak-anak kucing yang sangat penakut dan senang mendesis serta mencoba kabur, gunakan sarung tangan kulit agar Anda tidak terluka jika mereka menggigit. Bungkus kucing dengan handuk dan biarkan hanya kepalanya yang terbuka. Hal ini akan menenangkan kucing dan melindungi diri Anda dari luka cakar.
  • Pegang anak kucing dekat dengan tubuh Anda agar ia merasa tenang karena kehangatan dan detak jantung Anda. Lakukan selama beberapa jam setiap hari untuk memastikan ia terbiasa akan kehadiran Anda. Anda akan tahu saat Anda telah sukses saat anak kucing merasa cukup nyaman untuk meregangkan tubuh dan tertidur saat Anda memegangnya. 

9. Perhatikan perilaku kucing di lingkungan barunya

Setelah Anda punya kucing baru di rumah, pastikan semua anggota keluarga Anda tahu cara merawatnya. Perkenalkan kucing dengan hewan lain agar ia tidak ketakutan. Jika Anda punya anak kucing, pastikan anak-anak tidak bermain kasar dengannya. Perhatikan perilaku dan pola makan serta buang hajat kucing Anda agar Anda tahu saat ada sesuatu yang janggal (yang bisa menandakan bahwa ia mungkin sedang sakit).
  • Sering-seringlah bermain dengan kucing Anda dan penuhi kebutuhannya. Anda akhirnya akan bersyukur karena ia menjadi teman yang baik. 

# TIPS #
  • Atas faktor banyaknya kucing liar dan untuk kesehatan serta kebahagiaan kucing Anda, Anda disarankan melakukan tindakan steril pada kucing Anda.
  • Semakin dini Anda mulai melatih kucing untuk bersosialisasi maka akan semakin baik. Anak kucing yang berusia 12 hingga 16 minggu akan lebih mudah disosialisasikan.
  • Kucing tidak perlu dimandikan kecuali ia kotor atau mengalami masalah kulit. Kucing bisa membersihkan dirinya sendiri.
  • Anak kucing harus dibawa ke dokter hewan secara rutin untuk menyelesaikan proses vaksinasinya. Kucing dewasa yang sehat harus diperiksa oleh dokter hewan setiap tahunnya. Kucing lansia atau yang mengalami masalah kesehatan kronis akan memerlukan kunjungan ke dokter hewan dengan lebih sering. (#)

)*sumber: www.id.wikihow.com

>>Back to: Artikel dan Tips!

Jumat, 01 Januari 2016

Mengapa Rasulullah Sangat Sayang terhadap Kucing?



(Ilustrasi)

NABI Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, Nabi selalu menggendong Mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar Adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Keistimewaan Kucing

Fakta Ilmiah 1: Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.
Fakta Ilmiah 2: Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.
Hasil yang didapatkan
        Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
        Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
        Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
        Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
        Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
        Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.
Komentar Para Dokter Peneliti
        Menurut Dr. George Maqshud, Ketua Laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing.
        Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
        Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak terdapat pada anjing, – manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.
        Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme.
        Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll)
        Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.
        Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.
Fakta Ilmiah 3: Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.
Fakta Ilmiah Tambahan: Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.

Sisa Makanan Kucing Hukumnya Suci

Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi SAW pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia. Mungkin ini pula-lah mengapa Rasulullah SAW sangat sayang kepada Muezza, Kucing kesayangannya. (#)

)*sumber: www.eramuslim.com

>>Back to: Artikel dan Tips!
 

Selasa, 14 Oktober 2014

Jeng Tella dan Uni Ciprut (Part 2)


Di Part 1 tulisan ini telah dikisahkan bagaimana Stella si kucing dome menjadi bagian dari keluarga Milly dan Yeri. Selang beberapa waktu setelah Stella, muncul pula kucing dome betina lainnya. Dengan motif bulu dominan putih dengan point hitam dan kuning, kucing ini pertamakali dijumpai oleh Yeri di pekarangan musholla dekat rumah mereka, Musholla Nurul Hidayah Gang Mandiri. Sewaktu di musholla itu Yeri melihat sesosok kucing yang berjalan glesotan merangkak terhuyung-huyung terlihat kepayahan sekali. Badannya kurus banget; hingga tulang-belulangnya tampak bertonjolan. Yeri yang menyaksikannya saja kerasa miris.

“Wah, ‘ni kucing kenapa? Kurus bangett badannya ... Ih, jalannya juga kok glesotan gitu? Amit-amit. Sakit kayaknya ini kucing ...”, begitu gumam Yeri dalam hati. Sesampainya di rumah Yeri menceritakan hal itu ke Milly, isterinya. “Ih, kenapa enggak kamu bawa aja kesini. Kesian kan itu kucing. Kok kamu biarin aja sih?”, tuntut Milly. “Haddeeeh, enggak kepikiran ‘yang! ...”, balas Yeri melengos.

Tak lama dari peristiwa tsb, datanglah sekonyong-konyong kucing yang pernah diceritakan Yeri ke Milly itu ke rumah mereka. Lagi-lagi Yeri yang menemukan. Tanpa sengaja saat Yeri hendak berjalan ke teras depan rumah; lamat-lamat ia mendengar suara kucing yang seolah tengah merintih-rintih. “Eh, apaan tuh? Kok kayak suara kucing sakit. Ngeong- nya aneh? ...”. Penasaran, Yeri berkeliling menyelidik ke sekitar ruang kerjanya yang bersebelahan dengan teras rumah. 

Saat ia melongok ke jendela, tepat dibawah bagian dalam, terlihat olehnya seekor kucing kurus tengah meringkuk meringis-ringis. “Waaa, ini sih kucing yang kemarin itu! Lha kok basah-basahan gitu? Iiihh ...”, ungkap Yeri.

Bergegas Yeri memanggil Milly, “’Yaaaaangg! Ini kucingnya yang saya bilang kemarin! Ini kucciingnya niiih! Hhhh ...”. Sontak Milly berlari menuju Yeri.

“Appa? ... Gimana? ... hhah??”,

“Inii nih kucingnya! Itu, kenapa tuh? ... kok kayaknya dia ngebobo-in pipisnya sendiri sih? Ih, jijik ...”, ungkap Yeri geli.

Tampak Milly seksama memperhatikan keadaan si kucing. Matanya seolah tak berkedip. Milly terlihat tenang sekali. Khidmat. Sekejab suasana berubah menjadi melodramatis“Kamu diem ...”, ujar Milly ke Yeri. Yeri menjadi ikut terkesima terdiam melongo. Dengan tenangnya Milly mendekat dan mendekat ke sang kucing. Si kucing tetap dalam keadaannya mengeong meringis-ringis.

“Ini memang kucing sakit. Kayaknya lumayan nih sakitnya ...”, Milly bertafakur. 

Suasana sekitar tetap terkendali dan senyap. Perlahan Milly mulai memegangi dan mengelus-elus kucing tsb, “Uuu, kasiannya kamu puss-puss ... kamu sakit ya? Hah? Sakitt yya?”, ujar Milly berulang-ulang. Sang kucing hanya tergolek tak berdaya. “Mm, kamu kurus banget sih? Sampe tinggal tulang badannya. Hah? Kucingnya siapa kamu? Dibuang sama orang ya? Hmmm ... kalo memang iya, kurang ajar deh yang buang kamu. Kucing cakep kayak gini kok dibuang ya. Hhmmm ...”.

Yeri takjub sambil tetap mematung di tempatnya.

“Itu trus, pipisnya gimana?”, komentnya,

Wess, biar aku yang ngurus”, timpal Milly.

Tak berapa lama Milly segera mengubah keadaan. Ditanganinya si kucing sakit tsb dengan sepenuh perhatian dan kasih sayang. Ruang kerja Yeri diberesi dan dibenahi Milly hingga kembali bersih, rapi, wangi seperti keadaan semula. Si empunya ruang (Yeri maksudnya) tentu dibikin tersenyum tersungging-sungging merasa puas ruang kerjanya rapi jali lebih dari biasanya.

“Nahh, gettoo doonk ...”, puji Yeri ke Milly, “Aku kan gak bisa konsen kalo tempat kerja bau, berantakan ... you know lah”,

“Huh! Dasar. Aji mumpung!” Ketus Milly.

Si kucing dome sakit itu akhirnya benar-benar diadopsi Milly. Diperhatikan dan dirawatnya sungguh-sungguh hingga sembuh. Menurut Milly, sakitnya kucing itu disebabkan oleh masalah cacingan akut. Maka itu diobatilah si kucing dengan obat cacing yang paten oleh Milly secara kontinyu. Sejak dimulainya perawatan berangsur-angsur kondisi kesehatan si kucing kembali pulih dengan nafsu makan yang terus membaik. Setelah sekian lama perawatan sang kucing telah kembali sehat seperti sediakala. Bobot badannya ideal dan lincah seperti kucing sehat lainnya. Saking sehatnya malah seolah hiperaktif.

Sebab hiperaktif, tingkah-polahnya di rumah Milly dan Yeri seringkali memancing kegaduhan. Seperti biasa, hal tsb membikin Yeri ngedumel; tapi sebaliknya Milly. Apapun kegaduhan yang dibikin oleh si kucing, Milly malah tampak senang, memprotek dan membelanya. “Itu tandanya kucing sudah bener-bener sehat”, ungkap Milly enteng, “Grrrr ....” (Yeri meradang). Akhirnya kucing dome baru ini pun berteman dengan Stella. Namun, soal sifat antara keduanya jauh berbeda. Stella berprilaku sangat santun dan sangat berpegang teguh pada etiket.

Lain halnya si dome baru yang cenderung liar. Begitupun soal cara dan selera makan. Stella pilih-pilih; si dome baru ‘hajjar blehh!’.

Jangan tak percaya, bahkan makanan pedas seperti tempe balado dan rendang padang sekalipun disikat habis oleh si dome baru. 

Dan uniknya, lha kok doi seolah doyan banget sama panganan-panganan pedas. Hah, sungguh ajaib! Fakta-fakta tsb memancing komentar Yeri. “’Yang, si dome baru itu aneh juga ya? Mosok makanan-makanan pedas dia doyan?”, “Siapa, si Cici?”, rupanya Milly sudah menamai si kucing dome baru itu. “Iya, beda banget sama si Tella (nama panggilan Stella). Kalo Tella itu, wuallaahh ... Njawani bangedd. Slow, santun, berbudipekerti luhur. Lain dengan cici. Kali kelihatan dari cara dan selera makannya juga kali ya? Yang satu Njawani; satunya Sumaterani”, ujar Yeri.

“Nahh! Cocoknya dikasih nama yang pas tuh buat mereka berdua. Disesuaikan dengan personality –nya. Kalo Stella ta’ kasih panggilan ‘Jeng Tella’ saja. Soalnya Njawani ya. Kalo Cici, titelnya Uni’. Sebab dia doyan makan pedas dan rendang padang. Nama panjangnya Uni Ciprut’. Bolehlah tetap dipanggil Cici”. Demikian analisa kepribadian diuraikan mendalam oleh Yeri perihal Stella dan Cici. Milly tak ambil komentar. Tapi tampaknya setuju-setuju saja; itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang happy dan sumringah mendengar usulan Yeri. 

Lebih penting dari itu, sebab kini telah ada dua ekor kucing dome pengganti Oddie di rumah mereka. Milly beroleh obat pelipur lara. (#)

)* The End of Story: Jeng Tella dan Uni Ciprut

>>Back to: Our Cat Stories!

Senin, 06 Oktober 2014

Jeng Tella dan Uni Ciprut (Part 1)


Ada dua ekor kucing dome lucu yang kini meramaikan rumah dan menjadi bagian keluarga Milly dan Yeri. Yang satu dinamai ‘Stella’, lainnya ‘Uni Ciprut’. Sebagaimana akan diceritakan, keduanya memiliki histori yang unik sampai akhirnya diadopsi menjadi kucing yang disayangi Milly dan Yeri. Awal peristiwa bermula sekira lebih dari 3 bulan yang lalu. Saat itu, rumah Milly dan Yeri tiba-tiba gaduh tak terkira. Diselidik-selidik, sumber kegaduhan ternyata berasal dari atas plafon rumah. Gedubragg! Gabrukk! Krraakk-krraakk! Sreeekkk ... (terus-menerus berulang-ulang). Kontan bunyi-bunyian gaduh tsb membikin jengkel seisi rumah.

“Walaahh! Apaan lagi si tuhh! Berisik bener! Dari kemaren kok gak ilang-ilang!”, omel Yeri tampak kesal sebab suara gaduh di atas rumahnya. Milly tanpa ekspresi celingak-celinguk seolah tak peduli keluhan suaminya, Yeri. 

Setelah beberapa saat kegaduhan mulai menjalar ke dalam rumah—akibat tingkah Yeri yang makin uring-uringan—akhirnya Milly angkat bicara, “Alaaaaah yaaang- yang, paling kucing kawin itu di atas!”, ketusnya, 

Iya tapi kok gak ada suaranya, cuman grabag-grubug aja dari kemarin!”, 

Sudah sih biar aja, ‘tar juga anteng sendiri”, koment Milly. 

Memang tak berapa lama itu kegaduhan perlahan mereda. Suasana kembali kondusif dan tenang.

Tak selang waktu lama, tanda-tanda kegaduhan dimulai kembali. Srreeek- ... srreekk- ... (hening sesaat) ... sreekkk- ... (hening lagi) ... (masih hening juga) ... (masih tetap hening) ... (lalu) ... Miaww- ... Miaww- ... Miiiaw-miaww-miiaw!! ... (suara anak kucing terdengar perlahan) ... Miiiaww! (Makin bersahutan). “Ooo, rupanya ini tokh. Kucing beranak di atas. Hhhmmm ...”, Yeri geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Tapi setelah sekian waktu diamat-amati; didengarkan dengan konsentrasi penuh, menahan nafas, khidmat dan seksama; terdengar oleh Yeri bahwa yang ada di atas hanyalah suara anak-anak kucing. 

Tak tampak ada suara kucing dewasa atau induknya.

Setelah mengetahui ikhwal keadaan tsb, tidak bisa tidak Milly dan Yeri mulai merasa panik. Sebab jika si baby-baby cat itu dibiarkan lama atau ditinggalkan oleh induknya di atas, sementara mereka memerlukan perhatian dan susu dari sang induk; maka, alamat jadi masalah. Sebab, peluang para baby cat itu mati mungkin terjadi. Inilah resiko yang dikhawatirkan Milly dan Yeri. Segera keduanya mengutus petugas intel ke atas rumah. Indro -lah yang ditunjuk menunaikan misi yang amat mulia tsb. Berdasarkan laporan Indro dari TKP (atas palfon rumah), terkonfirmasi bahwa yang ditemukan di atas hanya para baby cat.

Segera Milly dan Yeri mencari-cari tahu siapakah indukan dari anak-anak kucing tsb. Berdasarkan motif warna bulu dari para baby cat tsb dicarilah oleh mereka kucing-kucing dome di sekitar rumah yang paling memiliki kemungkinan melahirkan motif bulu seperti para baby cat itu. Aksi penyisiran (sweeping) pun akhirnya dilakukan dengan cara seksama dan—sebisa mungkin—dalam tempo yang sesingkat-singkatnya menimbang kebutuhan dan keadaan para baby cat. Operasi pencarian tak berjalan mudah mengingat keberadaan kucing-kucing stray di luar rumah yang datang dan pergi tak berketentuan.

Adakalanya seekor muncul; lalu pergi; muncul lagi yang lain; pergi lagi; begitu terus bergantian.

Dan sejauh yang Milly, Yeri dan Indro amati; sampai dengan saat terakhir mereka melakukan pengintaian dan penyelidikan, tak satupun kucing stray di luar rumah yang memiliki ciri kemiripan (pola motif bulunya) dengan para baby cat itu. Sampai suatu ketika, dikala mereka bertiga hampir putus asa, dikirimlah oleh Allah seekor kucing yang secara fisik mungkin diduga adalah indukan dari para baby cat itu. Yeri –lah yang menemukan dan merasa feeling bahwa itulah indukan kucing yang selama ini dicari. “Ayyaaaaang! Indrroooooo! Sini! Ini kucingnya. Ini kucingnya! Ini pasti induknya nih! Ayo lekas kita tangkkapp! ...”.

Tergopoh-gopoh ketiganya meringkus kucing suspect.

Kucing suspect pun akhirnya berhasil ditangkap; dan segera melalui proses identifikasi; isolasi dan karantina sementara; disusul serangkaian pengamatan yang serius—bahkan inginnya sih melibatkan Tim DVI Polri dan Tim Inafis Polres Lamsel untuk olah TKP dan tes DNA yang bersangkutan (leebbayy kaleeee! Hahaha!). Alhasil, Milly, Yeri dan Indro, sangat yakin bahwa mereka telah menemukan indukan kucing yang dicari. Kucing suspect pun segera dipertemukan dengan para baby cat. Tapi, setelah sekian waktu mereka perhatikan sama sekali tak terbangun chemistry antara si anak dan induk kucing. Ibarat magnet, kedua-dua pihak seolah saling menolak.

Peristiwa tanpa chemistry tsb berselang cukup lama. Hingga akhirnya, kucing suspect dan para baby cat sementara dipisahkan. Di kala jeda waktu inilah, sekonyong-konyong datang seekor kucing lain dengan lenggak-lenggok keibuan dan gayanya yang tenang, muncul dari arah timur di atas genting rumah Milly dan Yeri, melenggang menyongsong para baby cat yang masih mengeong-ngeong di plafon rumah mereka. Kontan Milly, Yeri dan Indro melongo terkesima melihat kejadian ajaib itu. Masih dengan mulut ternganga, dalam hati Yeri berkata, “Lhaaa, ini tokh emaknya! Kemane aje lo jeng-jeng?? ...”. Sementara Milly dan Indro masih saja mematung melompong terlongo-longo.

Sampai akhirnya ketiganya tersadar bahwa mereka telah salah tangkap. “Yaa, jadi kita salah tangkep donk ya?”, ujar Indro speechless

“H-hhh, iya euy! Hallaaah, udah heboh kayak gini ternyata salah sasaran!”, timpal Yeri, 

“Yo wess, yo wess. Yang pentingkan indukan kucing yang aslinya kan sudah ketemu. Aman deh tuh baby cat- baby cat yang ada di atas”, Milly menenangkan. 

“Terus ini gimana nih? Si kucing suspect?”, tanya Yeri, 

“Ini kucing manis lhoo. Sudahlah biarin di rumah ini aja. Memang sudah lama kok aku pengin pelihara kucing dome!”, jawab Milly yang langsung menggendong dan mengamankan si kucing suspect.

“Aku mau namain kucing ini Stella!”, teriak Milly tak peduli opini yang lain, “Stella, alias plesetan dari ‘salah tangkep’!”, imbuhnya. Sejak itulah Stella menjadi kucing dome penghuni rumah Milly dan Yeri. Memang tak sepenuhnya keliru mengadopsi Stella, sebab benar feeling Milly, Stella memang betul-betul kucing yang manis. Memikat kepribadiannya dan manis tingkahnya. Stella pun tampak sehat dan sangat bahagia setelah menjadi bagian dari keluarga Milly dan Yeri. Yeri yang biasanya cuek, pun terlihat sayang kepada Stella. Sampai-sampai Stella dijuluki kucingnya Yeri. Hhmm, akhirul kisah tetap happy ending ya ... (#)

)* bersambung ke: Jeng Tella dan Uni Ciprut Part 2

>>Back to: Our Cat Stories!

Selasa, 30 September 2014

Chokey dan Boboi


Chokey dan Boboi sangat akrab sekali. Mereka berdua terlihat seperti teman sejawat. Meski usia keduanya terpaut jauh; Chokey senior, Boboi junior, namun keduanya tampak CS beratt. Chokey yang terkenal dengan masa lalunya yang preman dan sangar, terhadap Boboi, ternyata ia bisa juga menunjukkan sisi lain pribadinya. Ini jelas menjadi fenomena yang unik; sebab bisa dikatakan hampir tak pernah Chokey di waktu-waktu sebelumnya bisa menunjukkan pertemanan yang hangat kecuali kepada Boboi sebagaimana terjadi saat ini. Maka bisa dibilang, pertemanan antara keduanya adalah kejadian langka.

Boboi adalah keturunan Rocha vs Poo Yee. Kucing persia putih berwajah lucu ini—entah bagaimana kejadian awal mulanya—setelah berusia remaja menjadi begitu akrab dengan Chokey. Mereka berdua sering terlihat bermain bersama dimana saja; baik saat  di kamar kucing, di kandang kecil (ruang tunggu manakala kamar kucing tengah dibersihkan), maupun saat-saat istirahat bermain di malam hari ketika di lepas di dalam rumah. Hampir bisa dipastikan, kemana Chokey pergi pastilah disitu ada Boboi. Jika diperhatikan lebih seksama prilaku mereka berdua memang unik.

Boboi terutama seolah terlihat sangat mengidolakan Chokey. Jika terus diamat-amati banyak hal yang dilakukan dan menjadi sifat Chokey, itu ditiru dan diikuti oleh Boboi. Anehnya, Chokey pun seolah tahu bahwa kini ada diantara teman-teman kucing dilingkungannya—dalam hal ini Boboi—yang memposisikan diri sebagai follower- nya. Dan atas apa yang disadarinya itu Chokey pun seolah tahu bagaimana memperlakukan fans atau pemujanya. Dan terhadap Boboi, sisi lain pribadi Chokey yang tak biasa terlihat. Ya Chokey kucing juga (adaptasi istilah ‘rocker juga manusia’).

Hanya dengan Boboi Chokey bisa menunjukkan sikapnya yang hangat. Tahu beroleh sikap welcome dari idolanya, Boboi pun makin asik bermain dengan Chokey. Itulah Chokey dan Boboi. Persahabatan beda generasi yang assoyy. Pertemanan yang unik antara keduanya tentu memancing ulasan opini dari Milly dan Yeri. Milly dan Yeri jelas memperhatikan tingkah polah keduanya belakangan waktu ini. Ya pasti keduanya juga tahu sebab seringkali Chokey dan Boboi menghabiskan waktu bermain mereka di kamar Milly dan Yeri.

“'Yang, kamu perhatiin gak? Chokey sama Boboi kelihatan CS banget ya?", tanya Milly, 

Iya, jarang bangett yak? Kok, bisa sih Chokey sahabatan gitu sama Boboi? Biasanya dia sangar sama teman-temennya”, 

Hiyya itulah. Langka banget kan? ...”, 

Maka itu, ta kira kalo pagi kamar kucing diberesi sama Indro, Chokey tetap dievakuasi di kandang sendiri. E’ee, tahu-tahu pas pagi kemarin liwat kamar mandi, saya liat si Chokey dikandanginya sama Boboi and mereka berdua rukun dan happy-happy aja. Baguslah!”, koment Yeri, 

He-eh, syukur deh jarang banget Chokey bisa sahabatan ke sesama kucing. Alhamdulillah, seumur-umur baru kali ini dia bisa punya temen akrab kayak Boboi”, tukas Milly.

Milly dan Yeri tentu sangat bahagia atas persahabatan Chokey dan Boboi.

Dengan begitu, Chokey gak kelihatan kayak ‘autis’ lagi; yang biasanya main sendiri; diisolasi sendiri; makan sendiri; kandang sendiri; dst-dst; pokoknya Chokey segalanya serba disendirikan menimbang tabiatnya yang agresif. Sebab itu sebelumnya sahabat sejati Chokey ya hanya Milly sendiri. Di lain sisi, Milly pun begitu. Di kala-kala antara Milly dan Yeri terjadi ‘perang bharatayudha; maka, teman dekat tempat curhat -nya adalah Chokey. Jika ‘perang bharatayudha meletus, di sesi akhir peristiwa dipastikan Chokey selalu menjadi korban penculikan Milly. 

Tapi selalu ada hikmah dibalik peristiwa penculikan Chokey; yakni, itu pertanda perang segera berakhir damai.

Begitulah lika-liku tingkah si Chokey. Beruntung dia hari ini bersahabat dengan Boboi. Dengan begitu sisi ‘kekucingan’ (adaptasi istilah ‘kemanusiaan’) Chokey terekspresikan. Tak bedanya dengan kita manusia, sedingin-dinginnya atau sebengis-bengisnya seseorang, menurut fitrahnya, pasti di sisi tertentu ia tetaplah manusia juga yang punya dimensi-dimensi kemanusiaan sebagaimana orang lainnya. Nah, sepertinya hukum yang sama juga berlaku di dunia kucing seperti halnya Chokey. Inilah yang sangat-sangat disyukuri Milly dan Yeri. 

Setidaknya sisi ‘kekucingan’ Chokey menjadi indikator menggembirakan untuk menegasikan peluang tumbuhnya Chokey menjadi ‘psychocat’.

Amiiin. Alhamdulillah. Syukur-syukur-syukuuurr ... (#)

>>Back to: Our Cat Stories!