#UPDATE INFO:

Tampilkan postingan dengan label Chokey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chokey. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Cat in Car


Satu diantara 3 kucing Yeri dan Milly bernama Chokey (baca: Coki). Chokey berbadan agak besar dan berbulu lebat berwarna dominan kuning. Menurut Milly, ras -nya tergolong ras 'Maine Coon'. Itulah mengapa ia memiliki perawakan besar dibanding kucing lain pada umumnya. Yeri sendiri tidak begitu paham soal aneka kucing ras yang populer di dunia. Milly yang lebih ahli untuk soal ini. Chokey adalah kucing jantan. Disayangkan mereka telah mengkebiri Chokey. Atas hal ini, sebagai ganti penyesalan dan penebus dosa, Milly mengistimewakan Chokey dibanding kucing mereka lainnya.

Tapi, Chokey sungguh memang spesial. Ia Sangat jinak dan memiliki sifat-sifat yang tak biasa. Ada kedekatan emosi yang sangat kuat antara Milly dan Chokey.

Diantara sifat-sifat Chokey yang unik adalah, ia selalu dekat dengan mereka. Terutama ke Milly, Chokey seolah tak terpisahkan. Milly pun tentu sebaliknya. Keduanya ibarat ikan dan air. Jika di rumah, kemana Milly, disitulah Chokey. Bahkan Chokey seringkali tidur diantara mereka. Itu terjadi setiap hari manakala mereka di rumah Bandar Lampung. Kalau di rumah Kalianda—dalam sehari—Milly harus memiliki waktu untuk bercengkrama dengan Chokey di kamar.

Kebetulan karena di rumah Kalianda mereka memiliki fasilitas khusus kamar kucing di belakang, maka tidak setiap waktu kucing-kucing bersama mereka di dalam rumah. Sebab itu, Milly perlukan waktu sendiri untuk bermain dengan Chokey di kamar mereka di rumah Kalianda.

Terhadap Yeri, Chokey yang lucu menunjukkan keistimewaannya jika Yeri tengah sholat atau mengaji.

Ketika sholat atau mengaji, Chokey akan mendekat, duduk atau tidur-tiduran dekat ke posisi Yeri. Tampak seolah ia memperhatikan atau menyimak, mendengarkan apa yang tengah dilakukan dan dibaca. Itu terlihat dari gesture -nya dan telinganya yang bergerak-gerak menangkap lantunan bacaan sholat atau mendengarkan suara ngaji. Biasanya, setelah ucapan salam takhiat akhir dan mengusap muka tanda usai sholat, Yeri usapkan juga tangannya ke muka Chokey. Ia akan mengerjap dengan mimik muka yang terlihat senang dan tenang.

Lainnya, Chokey memiliki kebiasaan dan 'keahlian' memijat. Lucu sekali bukan?

Tidak banyak kucing yang bisa memijat seperti Chokey. Atau, mungkin bisa dibilang cuma Chokey barangkali satu-satunya kucing di dunia yang pandai memijat.

Memijat? Ya. Cara Chokey memijat adalah seolah orang memijat. Ia menggunakan 2 kaki depannya (layaknya tangan) untuk memijat. Jika Milly atau Yeri bersebelahan dengannya—di posisi duduk atau tidur—Chokey akan menggerak-gerakan 'tangan' -nya dengan gerakan memijat ke bagian badan mereka yang terjangkau olehnya; misal ke tangan mereka, atau ke kaki mereka, atau ke bagian badan lainnya.

Milly dan Yeri senang sekali dipijat-pijat Chokey.

Pijatan Chokey jelas pijatan amatir loh! Sebab 'tangan' -nya berkuku.

Bagi yang tak biasa dipijat kucing, jelas ‘gak akan berasa nyaman. Maka, Milly dan Yeri tak akan merekomendasikannya untuk orang lain.

Kebiasaan Chokey yang lain adalah mengikuti Milly kemana Milly pergi di dalam rumah. Ke dapur, atau ke kamar mandi. Chokey akan duduk menunggui Milly. Khusus ke kamar mandi, Chokey akan duduk di depan pintu kamar mandi sampai Milly keluar. Terkadang, Chokey akan menggaruk-garuk pintu kamar mandi, seolah tak betah menunggu. Begitu juga kalau Milly tengah duduk-duduk atau sengaja memangku Chokey, ia akan beringsut mendekat ke arah muka dan mencium-ciumi Milly.

Milly yang memang cat lover sejati sangat happy dengan sifat-sifat dan perilaku Chokey.

Seringkali Milly berkomentar, "Kok ada ya ‘yang ya, kucing kayak gini? Aneh, pinter, manja banget!", begitu koment Milly.

Sebab itu Milly tak terpisahkan dari kucingnya ini. Kapan tidak ada Chokey diantara mereka, Milly akan selalu bilang, "Gak seru gak ada kucing!", atau, "Kangeenn Chookkeeyy ...". Itulah Milly dan kucing-kucingnya.

Ada sifat Chokey yang juga menyebalkan, yaitu jika dalam perjalanan. Jika mereka berdua harus kembali ke Bandar Lampung untuk alasan pekerjaan dan itu memakan waktu lebih dari 2 hari, otomatis Chokey dibawa. Milly dan Yeri menaruhnya didalam kandang lipat berwarna biru berukuran sedang, lalu mereka letakkan di bagasi belakang mobil. Jika sudah begitu dan tahu bahwa ia akan dibawa, Chokey akan menunjukkan ekspresi kejiwaannya yang dalam tekanan (stress).

Itu tampak ketika ia mulai berliur hingga liurnya menetes-netes. Milly dan Yeri tak lupa untuk menaruh kotak pasir toiletnya didalam kandang. Milly pun akan memastikan bahwa kandang Chokey tertutup cover mobil dan blower AC aktif dan menjangkau Chokey—tujuannya untuk meminimalisir tingkat stress Chokey.

Nah, di saat perjalanan berlangsung inilah kebiasaan buruk Chokey dimulai.

Apakah itu? Dalam kondisinya yang stress Chokey—seringkali—harus buang air (pup).

Dan kebiasaannya ini terjadi saat perjalanan.

Chokey pup bisa dua kali dalam satu kali trip.

'Teror' Chokey jelas mengharuskan keduanya menghentikan sejenak perjalanan untuk membereskan 'bom' yang dia tinggalkan. Urusan membereskan ini menjadi keahlian Milly. Yeri sering menggodanya sebagai 'Tim Penyapu Ranjau'. Jika Tim Penyapu Ranjau sudah bergerak dengan terampil dan cekatan, maka bereslah masalah bom Chokey yang meneror keduanya di perjalanan.

Di setiap perjalanan Milly dan Yeri bersama Chokey, kejadian ini memang telah menjadi rutinitas. Rutinitas Chokey pup, rutinitas aksi Tim Penyapu Ranjau, dan rutinitas Yeri yang dongkol dengan kebiasaan buruk Chokey ini. Tapi, yah dinikmati saja oleh Milly dan Yeri. Di hati kecilnya Chokey pun mungkin merutuki perjalanan yang selalu membuatnya stress! .... (#)

>>Back to: Our Cat Stories!

Selasa, 30 September 2014

Chokey dan Boboi


Chokey dan Boboi sangat akrab sekali. Mereka berdua terlihat seperti teman sejawat. Meski usia keduanya terpaut jauh; Chokey senior, Boboi junior, namun keduanya tampak CS beratt. Chokey yang terkenal dengan masa lalunya yang preman dan sangar, terhadap Boboi, ternyata ia bisa juga menunjukkan sisi lain pribadinya. Ini jelas menjadi fenomena yang unik; sebab bisa dikatakan hampir tak pernah Chokey di waktu-waktu sebelumnya bisa menunjukkan pertemanan yang hangat kecuali kepada Boboi sebagaimana terjadi saat ini. Maka bisa dibilang, pertemanan antara keduanya adalah kejadian langka.

Boboi adalah keturunan Rocha vs Poo Yee. Kucing persia putih berwajah lucu ini—entah bagaimana kejadian awal mulanya—setelah berusia remaja menjadi begitu akrab dengan Chokey. Mereka berdua sering terlihat bermain bersama dimana saja; baik saat  di kamar kucing, di kandang kecil (ruang tunggu manakala kamar kucing tengah dibersihkan), maupun saat-saat istirahat bermain di malam hari ketika di lepas di dalam rumah. Hampir bisa dipastikan, kemana Chokey pergi pastilah disitu ada Boboi. Jika diperhatikan lebih seksama prilaku mereka berdua memang unik.

Boboi terutama seolah terlihat sangat mengidolakan Chokey. Jika terus diamat-amati banyak hal yang dilakukan dan menjadi sifat Chokey, itu ditiru dan diikuti oleh Boboi. Anehnya, Chokey pun seolah tahu bahwa kini ada diantara teman-teman kucing dilingkungannya—dalam hal ini Boboi—yang memposisikan diri sebagai follower- nya. Dan atas apa yang disadarinya itu Chokey pun seolah tahu bagaimana memperlakukan fans atau pemujanya. Dan terhadap Boboi, sisi lain pribadi Chokey yang tak biasa terlihat. Ya Chokey kucing juga (adaptasi istilah ‘rocker juga manusia’).

Hanya dengan Boboi Chokey bisa menunjukkan sikapnya yang hangat. Tahu beroleh sikap welcome dari idolanya, Boboi pun makin asik bermain dengan Chokey. Itulah Chokey dan Boboi. Persahabatan beda generasi yang assoyy. Pertemanan yang unik antara keduanya tentu memancing ulasan opini dari Milly dan Yeri. Milly dan Yeri jelas memperhatikan tingkah polah keduanya belakangan waktu ini. Ya pasti keduanya juga tahu sebab seringkali Chokey dan Boboi menghabiskan waktu bermain mereka di kamar Milly dan Yeri.

“'Yang, kamu perhatiin gak? Chokey sama Boboi kelihatan CS banget ya?", tanya Milly, 

Iya, jarang bangett yak? Kok, bisa sih Chokey sahabatan gitu sama Boboi? Biasanya dia sangar sama teman-temennya”, 

Hiyya itulah. Langka banget kan? ...”, 

Maka itu, ta kira kalo pagi kamar kucing diberesi sama Indro, Chokey tetap dievakuasi di kandang sendiri. E’ee, tahu-tahu pas pagi kemarin liwat kamar mandi, saya liat si Chokey dikandanginya sama Boboi and mereka berdua rukun dan happy-happy aja. Baguslah!”, koment Yeri, 

He-eh, syukur deh jarang banget Chokey bisa sahabatan ke sesama kucing. Alhamdulillah, seumur-umur baru kali ini dia bisa punya temen akrab kayak Boboi”, tukas Milly.

Milly dan Yeri tentu sangat bahagia atas persahabatan Chokey dan Boboi.

Dengan begitu, Chokey gak kelihatan kayak ‘autis’ lagi; yang biasanya main sendiri; diisolasi sendiri; makan sendiri; kandang sendiri; dst-dst; pokoknya Chokey segalanya serba disendirikan menimbang tabiatnya yang agresif. Sebab itu sebelumnya sahabat sejati Chokey ya hanya Milly sendiri. Di lain sisi, Milly pun begitu. Di kala-kala antara Milly dan Yeri terjadi ‘perang bharatayudha; maka, teman dekat tempat curhat -nya adalah Chokey. Jika ‘perang bharatayudha meletus, di sesi akhir peristiwa dipastikan Chokey selalu menjadi korban penculikan Milly. 

Tapi selalu ada hikmah dibalik peristiwa penculikan Chokey; yakni, itu pertanda perang segera berakhir damai.

Begitulah lika-liku tingkah si Chokey. Beruntung dia hari ini bersahabat dengan Boboi. Dengan begitu sisi ‘kekucingan’ (adaptasi istilah ‘kemanusiaan’) Chokey terekspresikan. Tak bedanya dengan kita manusia, sedingin-dinginnya atau sebengis-bengisnya seseorang, menurut fitrahnya, pasti di sisi tertentu ia tetaplah manusia juga yang punya dimensi-dimensi kemanusiaan sebagaimana orang lainnya. Nah, sepertinya hukum yang sama juga berlaku di dunia kucing seperti halnya Chokey. Inilah yang sangat-sangat disyukuri Milly dan Yeri. 

Setidaknya sisi ‘kekucingan’ Chokey menjadi indikator menggembirakan untuk menegasikan peluang tumbuhnya Chokey menjadi ‘psychocat’.

Amiiin. Alhamdulillah. Syukur-syukur-syukuuurr ... (#)

>>Back to: Our Cat Stories!

Minggu, 31 Agustus 2014

Kena Flu Berat


Grooook- groookk- kkkrrrrrrr; .... srooottt- groookkk! ...
Hsszzz- hsssszzz ...
Yeri tergelitik mencari tahu. Itu kira-kira suara apaan sih? (pikirnya penasaran). Ia menengok ke kanan-kiri; mencoba menduga-duga arah sumber suara. Saat itu ia tengah duduk di kursi kerjanya mengotak-atik laptop sebagaimana biasa. Sejenak tak ia pedulikan; tetapi kembali suara yang sama menganggunya. “Wah, ni suara apaan sih?! Gak enak bangett! Ganggu konsentrasi aja!”, ujarnya jengkel. Yeri bangun dari kursinya bergegas menyelidik. Tha- daaa! Rupanya sumber suara berpusat di chokey yang tengah dikandangi di bawah meja di ruang makan.
Sraattt- sroooot- groookkk! ...
“Wah- wah! Rupanya Chokey toch! Ayyaaaaangg! Ini kenapa si Chokey kok suaranya jadi begini? Hih, kenapa kamu Chokey? ...”, teriak yeri. Tak lama tergopoh-gopoh Milly berlari keluar kamar, “Hei! Biarin itu Chokey! Dia itu lagi sakit!”, “Hah, sakit? Sakit kenapa? Pantes kok suaranya jadi kayak gitu?”, tanya Yeri, “Sakit flu berat!”, jelas Milly. Memang Chokey saat itu tampak sekali kuyu dan terlihat demam. Suara-suara aneh itu ternyata bersumber dari nafas dan tenggorokannya. Sepertinya hidung, ruang mulut dan dadanya dipenuhi oleh dahak. Sebab si dahak tak keluar, maka jadilah ia mengganggu pernafasan Chokey dan memicu bunyi-bunyian seperti itu.
Hhhmmm, kasihan sekali Chokey ... (ujar Yeri dalam hati).
Sebab karena sakitnya itu; untuk sementara Chokey diisolasi dari teman-temannya yang lain. Ia dievakuasi dari kamar kucing di belakang rumah dan ditaruh di kandang tersendiri agar sakitnya itu tidak menular ke yang lain. Jadilah ia tinggal di ‘Ruang ICU’ ala-ala Milly. Ditempatkan di ruang sebelah kamar Milly dan Yeri dimaksudkan untuk mudah merawatnya dan agar kondisinya selalu dalam pengawasan Milly. Kondisi sakit Chokey itu sontak mengubah Milly menjadi perawat kucing yang rajin, tekun dan penuh dedikasi. Setiap waktu Milly mengobati dan merawatnya.
Lain waktu Milly menjadi teman bicara Chokey yang setia; mengajaknya main; dan menjemurnya di depan rumah. Tugas Indro –lah menjadi perwira jaga menunggui Chokey berjemur dibawah sinar mentari pagi. Itu dalam rangka memberi supply udara segar untuk Chokey selain manfaat sinar matahari juga diyakini baik untuk pemulihan kesehatannya. Agar Chokey tak lari; ia ditaruh di kerangkeng khusus untuk berjemur. Selaku perwira jaga, Indro, selalu dalam kondisi siap sempurna menungguinya. Dalam pemantauannya, gerakan apapun dari Chokey atau objek-objek bergerak lainnya sedia diantisipasi.

Bhuaahh! Gayanya sudah laksana detasemen khusus polisi anti teror. Heboh sekali. Hehehe ...
Untuk 2 hari pertama kondisi kesehatan Chokey belum banyak berubah.  Masihlah suara graaakkk- grooook- hssszz- hhsssssz –nya Chokey mewarnai suasana. Menginjak hari ketiga mulai tampak perbaikan. Langkah-langkah perawatan dan pengobatan oleh Milly mulai terlihat hasilnya. Nafas Chokey perlahan kembali teratur; bunyi-bunyian dahaknya berkurang; dan Chokey tampak mulai kembali berenergi. Tak lagi lesu dan mulai bersemangat. Melihat kondisi tsb Milly sangat bahagia. Chokey memang kucing yang paling ia sayangi; untuk itu Milly rela melakukan apapun untuknya.

Dan terlihat jelas bahwa lekas pulihnya kondisi Chokey pun antara lain sebab totalitas, perhatian dan pancaran kasih sayang yang tulus dari Milly kepadanya.
Atas hal tsb, penting digarisbawahi, terkadang limpahan rasa cinta, perhatian dan kasih sayang yang tulus dan murni dari seseorang bahkan bisa jauh lebih mujarab dibanding efek dari sekedar obat. Atau jika bisa mengkombinasikan keduanya maka memulihkan kondisi si sakit tak akan perlu waktu lama. So, teristimewa bagi kamu-kamu yang punya pet (hewan peliharaan) di rumah jangan pernah ragu untuk menunjukkan kasih sayangmu kepada mereka. Jika itu bisa saling membahagiakan antara kalian; why not? Bukankah itu bisa menjaga kualitas kehidupan kita semua?

Yakinlah bahwa faktor kebahagiaan merupakan diantara sumber hidup berkualitas dan pangkal kesehatan.
Iiitttuuu!!! ...
Wheeeleeehhh! Supper sekkalleee .... sudah kayak gulden wei- nya Makgio Tangguh aja. Hahaha! (#)
Tak ketinggalan, Yeri tentu turut ketularan bahagia juga
melihat Chokey membaik dan Milly gembira.

>>Back to: Our Cat Stories!

Rabu, 27 Agustus 2014

Chokey Tak Jantan Lagi


Kucing kesayangan Milly si Chokey kini tak lagi segalak dulu. Chokey sekarang lebih jinak, kalem dan tak asal menghajar kucing-kucing lain yang ada di sekitarnya. Hanya pada kasus-kasus tertentu; terhadap kucing lain yang tak benar-benar dikenalnya tabiat Chokey yang asli akan menampakkan diri. Distrerilnya Chokey menjadi penyebab berubahnya prilaku agresif kucing kesayangan Milly yang satu ini. Saat memutuskan untuk disteril, Chokey memang terkenal kucing yang garang sehingga membuatnya selalu dikurung dalam kandang. Sebab, kapanpun ia dibolehkan keluar; mesti kegaduhan terjadi. Jadilah Chokey selama itu seolah burung dalam sangkar.

Sengaja dibawa dari kampung halaman Milly di Buitenzorg ke Sumatera adalah pesan dari ibundanya agar Chokey disteril. Maka, demi tujuan tsb belayarlah Chokey menyeberang melintasi Selat Sunda hingga ke rumah Milly di Sumatera. Saat itu tentu proses mengeksekusi misi pengkebirian Chokey merupakan hal yang bukan tanpa kontroversi. Khususnya antara Milly dan Yeri. Terjadi sedikit perdebatan antara keduanya sebelum misi tsb benar-benar dilaksanakan. Alasan pokok di sisi Milly, selain soal amanah adalah agar tabiat Chokey bisa jadi lebih jinak; sementara Yeri, agak enggan mendukungnya sebab takut berdosa.

Polemik antara Milly dan Yeri terjadi hampir di sepanjang perjalanan membawa Chokey ke rumah mereka, saat telah di rumah, bahkan hingga ke detik-detik menjelang eksekusi kejantanan si Chokey. Meski bersikap enggan mendukung pengkebirian si Chokey; tapi Yeri tidak ngotot untuk menghalang-halanginya. Tetaplah Yeri yang mengantarkan Milly dan Chokey ke salah satu dokter hewan ke Ibukota Karang untuk mensterilnya. Misi tetap berjalan sesuai rencana. Maka di hari ‘H’ yang ditentukan; mereka bertiga berangkat dari rumah menuju lokasi praktek dokter hewan di Kota Karang. Suasana senyap meliputi mereka hampir di sepanjang jalan.

Kecuali tersela aspirasi Yeri untuk berhenti sejenak mencari toilet.

Hingga tiba di depan lokasi eksekusi (tempat praktek dokter hewan maksudnya, hehehe); keduanya kembali memulai polemik. Sementara ‘si calon korban’ (Chokey) hanya merasa sedikit mulas tanpa tahu apa yang akan menimpanya beberapa saat berikutnya.

'Yang, kamu beneran serius mau steril si Chokey?”, tanya Yeri sungguh-sungguh.

Yeri bermaksud mengetes kembali tekad Milly.

“Iyalah! Mosok sudah sampe sini enggak jadi sih 'yang?”, timpalnya ketus,

“Emang kamu enggak takut dosa? Itukan dosa merobah-robah ciptaan Allah. Saya mah takut ah ...”,

“Yang, ini niatnya demi kebaikan Chokey juga. Kesian kucing-kucing lain yang jadi bulan-bulanan dihajar Chokey. Lagi Chokeynya juga kasian kalo harus terus-terusan dikurung mulu. Lha, inikan Ibu sama Mbak Vonny juga yang pesan. Amanah loooh ...”, semprot Milly ke Yeri,

 “Yo wes, aku enggak ikut-ikutanlah ...”, jawab Yeri melengos.

Misi pun akhirnya dieksekusi.

Di tangan eksekutor, Chokey tak lama sempoyongan setelah dibius. Dikala masa pembiusan itulah—untuk beberapa jenak—kejantanan Chokey dibuat “pensiun” selamanya. Tak lama setelah operasi selesai (kurang lebih 2 jam), Chokey kembali siuman. Terantuk-antuk ia mencoba untuk berdiri. Entah disadarinya atau tidak, sebab kejantanannya yang telah di non- aktifkan itu, kini ia bukan lagi Chokey yang dulu. Chokey yang berkepribadian preman nan sangar mungkin berikutnya—diharapkan—tak akan muncul lagi. Untuk beberapa saat Chokey masih tampak teler.

“Hallo Chooookkeeeeeeeeey! Wellcome back!”, seru Milly sumringah menyambut kucing kesayangannya itu.

Memang di waktu-waktu berikutnya, jauh setelah Chokey pulih dari masa operasi, terlihat bahwa terjadi perubahan tabiat yang signifikan di diri Chokey. Sekarang Chokey berkepribadian lebih kalem; cool; tenang; ... dan jadi saaangaaatt manja. Ia pun bisa lebih bersahabat dengan teman-teman kucing lainnya di rumah. Kecuali satu: Rocha. Chokey dan Rocha tetaplah jadi musuh bebuyutan selamanya. Lain dari itu, dari semula pesan Ibunda Milly adalah untuk memulangkan Chokey ke Buitenzorg segera setelah disteril; ternyata setelah itu ibundanya malah mengatakan agar Chokey biar dipelihara oleh Milly saja. Wooww! Betapa girang tak terkira dibuatnya hati Milly.

Meski kini Chokey tak jantan lagi, Chokey yang badannya kian besar dan jinak, benar-benar menjadi pusat tumpahan rasa kasih sayang Milly. Chokey -lah yang paling sering dibawa dan diajak main ke kamar Milly dan Yeri. Sebab kasih sayangnya yang ekstra itu, tak jarang Milly mengulang-ulang kata-katanya, “Begini biar aku bisa menebus dosa aku sebab sudah kebiri kamu ya Chokey. Karena aku sayang banget sama kamu ...”. Begitulah Milly. Bahwa akhirnya ternyata tetap terselip dihatinya rasa bersalah sebab telah merobah kodrat alamiah Chokey menjadi keadaannya sekarang. Untuk itu ia berusaha menebusnya dengan memberikan perhatian terbaik nan istimewa khusus untuk Chokey.

Yeri turut mendoakan semoga sebab niatnya yang baiklah yang akan dinilai oleh ALLAH SWT daripada amal perbuatannya terhadap Chokey. 

Insya Allah. Wallahu ‘a lam bhissowab ... (#)

>>Back to: Our Cat Stories!