#UPDATE INFO:

Tampilkan postingan dengan label Our Cat Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Our Cat Stories. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2016

Bertemu Geng Koi


Saat Yeri jalan ke kamar mandi belakang meliwati kandang Rocha; tampak Rocha tengah nongkrong di undak-undakan kucing yang menjadi tempat favoritnya bersantai ria. Di undakan paling atas yang bersebelahan langsung dengan jendela kamar kucing Milly dan Yeri, tampak wajah Rocha yang terlihat suntuk, kuyu dan bosan. Tak kelihatan semangat. Yeri sejenak menunda langkahnya, menoleh dan memanggil-manggil Rocha, “Rooochaaa, ... Rooochaaa! Hei-ei, ‘Ocha!, tegurnya.

Rocha tampak cuek. Mata sayunya tak menunjukkan reaksi; hanya menunjukkan sedikit gerakan, selebihnya kembali mematung dan tercenung. Uuww! Kesian sekali Rocha, pikir Yeri, kali dia bosen banget di kandangnya. Yeri segera berbelok menghampiri kandang Rocha. “’Ocha! Hei-hei, uuuudduu, kesian Rocha, ... bosen ya?, tanya Yeri. Selotan kunci kandangnya dibuka, Yeri lantas masuk dan memeluk-meluk Rocha.

Dielus-elusnya Rocha oleh Yeri, “Kenapa ganteng? Hooo, boosseenn ya? Uuu, kesian-kesian, tegurnya.

Yeri menggaruk-garukan tangannya kesekeliling leher hingga tengkuk Rocha. Rocha mengerjap, terpingkal-pingkal hingga setengah duduk dan berdiri sambil mendengkur-dengkur. Itu tanda suasana hatinya berubah menjadi senang penuh suka cita. Sambil berjongkok beberapa kali Yeri mengangkatnya dengan menumpu pada tangan kiri dan kanan; menciuminya berulang-ulang, “Kenapa kamu 'Cha? Mm, seneng ya sekarang?, tanya Yeri.

Ada sikap yang unik dari Rocha terhadap Yeri jika ia menyambanginya di kandang.

Itu sebagaimana sering dikoment oleh Milly.

Milly pernah bilang begini, “’Ocha itu aneh lho, cuma sama kamu aja kalo kamu dateng ke kandangnya terus ia mau makan. Kalo ke aku ato Indro, nggak begitu. Lempeng aja dia mah, kata Milly ke Yeri, “Oya? Iya sih, bener, aku juga perhatiin kalo aku main kesitu gak lama si 'Ocha terus aja makan, timpal Yeri, “Dasar dia tu kucingnya kamu!, sergah Milly.

Memang begitulah adanya; seolah terbangun ikatan emosional antara Yeri dan Rocha yang membuat mereka akrab.

Rocha pantas sering merasa suntuk dan bosan di kandangnya; sebab, untuk alasan tertentu ia memang dikenai pembatasan akses bermain di rumah Milly dan Yeri. Apa pasal? Itu dikarenakan sebagai kucing jantan yang telah tumbuh besar dan dewasa Rocha—secara alamiah—memiliki  insting untuk 'berkuasa' dan menjadi raja di wilayahnya. Dan untuk memastikan 'wilayah-wilayah kekuasaannya'; maka ia menandai tempat-tempat bermainnya dengan air pipis -nya (spraying).

Lhaa inilah masalahnya; sebab motifnya menjadi kucing jantan yang berkuasa, maka Rocha dimanapun ia bermain cenderung untuk ber- spraying tra-la-la dimana saja; di ruang tamu, di sofa, di gordyn, di rak buku, rak sepatu, dst. Sebab ia tahu di rumah Milly ada Chokey, kucing jantan lainnya. Itupun jika keduanya sampai bertemu, rumah dijamin dibuat mereka gaduh karena diubahnya menjadi 'sasana UFC'. Dan dipastikan Rocha juaranya. Karena itulah Rocha langsung kena semprit 'kartu merah' oleh Yeri.

Area bermain Rocha akhirnya dibatasi hanya di ruang belakang dekat kandangnya dan kamar mandi. Itupun tanpa boleh disatukan dengan kucing jantan manapun. Karena tidak boleh ada dua 'raja' dibawah matahari yang sama (he-he, sok dramatis banget ya?). Ya akhirnya Rocha seringkali menjadi raja yang kesepian; kecuali ditemani oleh Puput dan Poo Yee. Nah, maka sebab kesepiannya itu Rocha tampak sering terlihat murung, suntuk dan bosan.

Tahu bahwa itu yang menjadi pangkal musabab mood Rocha galau gundah gulana; Yeri terilhami untuk menghiburnya. Di depan rumah Milly dan Yeri terdapat sebuah kolam ikan yang menjadi tempat nongkrong Yeri setiap pagi dan sore. Di kolam itulah tinggal Milky si Koi, dkk. Di pagi dan sore hari Yeri membersihkan kolam, memberi makan si Milky Cs dan bersantai menikmati keseruan si Koi-Koi itu berebut makanan.

Dan tepat di pojokan depan rumah di atas kolam, juga terdapat 2 aqurium yang dihuni ikan-ikan kecil.

“Kenapa nggak ngajak Rocha main ke kolam aja?, begitu pikir Yeri, “Kali dia bakal senang nongkrong di sana”. Maka, saat sore tiba, Yeri tergopoh-gopoh mengangkut kandang kecil untuk Rocha main dekat kolam. Indro celingukan memperhatikan tingkah Yeri yang tak biasa.

“Eh, ngapain kamu 'yang? Sibuk amat bawa-bawa kandang kedepan?, tanya Milly yang juga keheranan melihat Yeri, “Ittuu, mau ajak Rocha main ke kolam. Biar gak suntuk dia”, jelasnya, “Ooo ....

Menyusul kandang yang sudah lebih dulu tiba di kolam; Yeri datang sambil menggendong-gendong Rocha. Tak lama itu Rocha dimasukan ke kandang kecil tadi tepat menghadap ke kolam. Sejenak Rocha terlihat panik dan kaget di tempat barunya; namun, segera menguasai diri dan lekas menyesuaikan. Di depannya, di kolam, di bawah permukaan air Milky si Koi (dengan motif badan warna-warni lembut seolah susu) berenang riang bersama teman-temannya yang lain.

Milky dkk -nya tahu, bahwa sore hari itu merupakan jadwal mereka untuk makan; maka, mereka sedia menyambutnya. keberadaan Milky Cs segera menyita perhatian Rocha; gerak-gerik Rocha tampak menunjukkan interest pada objek-objek yang bergerak aktif di bawah permukaan kolam. Apalagi manakala Yeri mulai menaburkan jatah fish food untuk Milky si Koi dkk; tak ayal pergerakan di kolam menjadi kian atraktif.

Mengikuti itu Rocha tampak seperti eforia; melonjak-lonjak senang di dalam kandangnya.

Mewakili teman-temannya yang lain, melihat Rocha, Milky si Koi pun mungkin bertanya-tanya, “Eh, ada makhluk lain di dekat kolam teman- teman! Itu sepertinya bukan dari jenis kita. Berbulu lebat putih, berkaki empat dan berekor panjang. Aku senang melihatnya. Wajahnya lucu. Sepertinya baik hati dan ingin bersahabat dengan kita!, tukas Milky. Sebaliknya Rocha, “Wah, teman-teman itu kok nggak punya kaki tapi jalannya cepat sekali. Gesit-gesit. Mereka tampak kompak, terlihat senang dan riang!, ujarnya ikut bergembira.

Yeri yang menyaksikan peristiwa sore itu turut berbahagia; upayanya tak sia-sia mengajak Rocha main ke kolam. Pada akhirnya Rocha terbebas dari kebosanan dan rasa suntuknya; lain dari itu semuanya lantas merasa happy sambil bersama-sama memeluk sore menjelang petang nan ceria. (#)

>>Back to: Our Cat Stories!

Jumat, 04 Maret 2016

Gaya Suka-Suka


Oddie emang beda sendiri. Meski 'anak lokal', tapi gaya flamboyannya melampaui 'anak-anak borju' kayak Rocha, Chokey, dll. Gerak-geriknya selalu tampak teratur, tenang, santai, bahkan seolah tebar pesona senantiasa. Oddie seperti sengaja untuk selalu menarik perhatian siapapun yang ada di sekelilingnya. Wah! Ni kucing emang gayya bangedd! Tengil! Itu pula yang bikin Milly kesengsem sama Oddie. Sudah sekitar 3 bulan belakangan ini Oddie diadopsi Milly dan Yeri.

Tapi, secara sifat sebetulnya Oddie cuma menang di gaya. Kalo soal nyali; ni anak cemen juga. Oddie kalo bertemu muka dengan kucing-kucing jantan lainnya—baik yang di rumah, maupun kucing-kucing stray di luaran yang mampir untuk numpang makan ke rumah Milly—langsung  ngibrit! Ngacir terbirit-birit kedalam rumah. Milly secara teratur di setiap jam makan tiba (pagi, siang, malam) memang selalu menyediakan mangkuk makanan untuk kucing-kucing stray di luar rumah yang ditaruhnya di teras samping.

Si kucing-kucing stray 'langganan' yang teridentifikasi sebagai 'Stella', si Black Garong (Milly lebih suka memanggilnya si 'Icem'), kadang ada juga yang lainnya, sudah tahu jadwal-jadwal 'open house' untuk mereka makan. Nah, jika waktu-waktu makan tiba, dimana Milly mulai menaruh makanan untuk mereka di teras, si Oddie yang juga tahu akan lebih dulu mengintip-ngintip sikon di luar rumah. Kalo Stella datang; bukan masalah baginya. Tapi manakala si Black Garong datang dengan gaya khasnya bak 'intel'; itu baru masalah.

Mulailah terlihat mental cemen Oddie sesungguhnya. Dalam sekejap citra dirinya sebagai kucing yang cool dan flamboyan sirna. Tanpa banyak timbang ini-itu, Oddie ambil langkah seribu tunggang-langgang menghidar lari masuk ke rumah. Hanya lucunya, sebatas di balik pintu samping rumah Milly bagian dalam, Oddie berhenti, berbalik mengintip-ngintip dan mengawasi si Black Garong yang dengan lahap nan waspada menyantap makanan yang tersedia. Kadang ditemani Stella.

Dibalik daun pintu teras yang aman—yang mungkin juga pada posisi tak terlihat oleh si Black Garong dan Stella—oddie memperhatikan dengan extra hati-hati kedua temannya yang asik berbagi makanan dalam suasana tenang dan damai. Pada situasi yang apes itu, tampak ekspresi Oddie yang pasrah, menggerutu sambil berkali-kali 'menelan ludah'.

Sebab kejadian seperti ini terus berulang setiap waktu; Milly yang kasihan melihat Oddie mulai berinisiatif untuk memisahkan jatah makan spesial untuk Oddie.

Dari itu, sejak beroleh jatah makannya sendiri, Oddie mulai mendapatkan kembali citra dirinya yang sempat jatuh dan tercoreng. Sifat tengilnya kembali pulih, gerak-geriknya ditata ulang untuk merestorasi impresinya yang kuat soal citra diri kucing dengan pesona, yang menjunjung tinggi-tinggi sifat cool dan flamboyan dalam laku kesehariannya. Dengan demikian 'marwah' dan martabat Oddie kembali terjaga. Ia tampak tampil 'pede' lagi; dan mulai dengan gayanya yang memikat seperti dulu.   

Tetapi seiring kembali pede -nya si Oddie; tingkahnya yang lain yang menyebalkan juga muncul.

Itu terkait sifatnya yang suka-suka (orang Jawa bilang, seena'e dhewe!). Ini termasuk soal datang dan perginya si Oddie. Milly yang sudah kadung jatuh hati sama dia dibuatnya 'nelongso'. Kenapa? Sebab Milly berharap Oddie menjadi kucing yang manis dan penurut. Soal sikap manisnya, oke Oddie tetap tampak manis; tapi kalo soal penurut, seperti pernah dikatakan Yeri, Oddie memang benar-benar kucing tanpa komitmen.

Seolah soal keberadaannya itu 100% ngikuti gimana mau hatinya saja. Tak bisa jadi kucing rumahan tulen. Datang dan pergi sesukanya. Kadang diharap Milly pagi; nongolnya malah siang! Diharap datang malam; muncul ba'da shubuh. Selalu begitu tanpa jadwal yang pasti sehingga sulit diterka. Pokoknya Oddie sukses membikin hati Milly galau tak menentu. Tinggallah Yeri yang kebingungan melihat Milly yang uring-uringan tak nafsu makan,

“Adduuuh, kemana ya si Oddie ya? kok, gak dateng-dateng”, keluh Milly.

Nanti giliran terlihat juntrungannya, Oddie dengan gaya spesialnya yang tebar pesona melenggang laksana langkah jumawa seorang diplomat yang diatur protokoler; wajahnya innocent, sikapnya tenang, lempang dan cenderung abai terhadap sikon di sekitarnya. Kadang ia masuk lewat teralis jendela kamar Milly dan Yeri; kadang lewat pintu samping; kadang melalui pintu atau jendela depan; atau kadang sesuka hatinya mau lewat mana saja.

Yang pasti dari arah mana pun ia muncul langsung menjadi pelipur laranya Milly.

“Oooddiiee! Waaww, dari mana aja si kamu! Huuu-uuh! Sini! ta' unyel-unyel kamu!', begitu teriak Milly. Oddie yang pasrah untuk ditangkap membalasnya dengan mengeong-ngeong. Berikutnya terjadilah dialog dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh para cat lovers dan si kucing itu sendiri. Yang menyaksikan seperti Yeri, hanya geleng-geleng kepala. Setelah beberapa kali kejadian seperti itu, Milly bertekad untuk melokalisirnya melalui program domestikisasi si Oddie.

Melalui program ciptaannya tsb—dengan kombinasi formula ala kecakapan personal, pendekatan psikis dan kurikulum character building yang disesuaikan—Milly berharap Oddie bisa 'dibentuk' menjadi kucing yang lebih beretika dan penurut. Untuk itu sebagai langkah awal menjadikan Oddie kucing rumahan tulen; maka Oddie harus dibuat terbiasa dan kerasan tinggal di rumah. Mulailah sejak itu Oddie 'dirumahkan'. Segala macam kebutuhannya difasilitasi Milly agar Oddie betah tinggal di rumah.

Sementara Yeri masih tampak terlihat pesimis atas program yang dicanangkan Milly. “Hehmm, coba aja nanti lihat deh, orang kucing susah diatur. Sok manisnya doang!', gerutu Yeri. Walau begitu, di lubuk hatinya yang terdalam Yeri pun sesungguhnya menyukai Oddie; hanya saja sifat Oddie yang suka-suka dan dicapnya 'nggak ada komitmen' seringkali membuatnya jengkel. “Huu, kucing gak tau disayang. Udah dimanja-manjain malah bikin galau gak pulang-pulang, kesahnya. (#)

>>Back to: Our Cat Stories!